Minggu, 14 November 2010

Sejarah BKPRMI

Lambang BKPRMI
Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) semula bernama Badan Komunikasi Pemuda Masjid (BKPMI) lahir di Gedung Majelis Ulama Indonesia (MUI) Propinsi Jawa Barat, Jalan L.R.E Martadinata (Jl Riau, saat Itu) pada tanggal 19-21 Ramadhan 1397 H / 3-5 September 1977 M. Dalam suatu pertemuan pemuda masjid Bandung di bawah asuhan Ketua Umum MUI Jawa Barat Saat itu Yakni K.H. E.Z. Muttaqien.
Tokoh-tokoh pemuda masjid pada saat itu, diantaranya Toto Tasmara, Bambang Pranggono, Samsudin Manaf, Iskandar Maskun, dan lain-lain. Dalam rapat pembentukan pengurus BKPMI periode pertama, Toto Tasmara terpilih sebagai Ketua dan Bambang Pranggono sebagai Sekertaris Jenderal. Rapat pembentukan dan pelantikan pengurus BKPMI periode I itu di lakukan di Masjid Istiqomah Bandung.
Pada saat pelantikan pengurus tersebut, hadir beberapa tokoh pemuda Masjid dari Jakarta, Jogyakarta, dan Semarang.
Mengingat Pengurus Periode I ini berkedudukan di Bandung, maka Sekretariat BKPMI pertama kali terletak di Bandung, yakni di Gedung Sekretariat MUI Jawa Barat. Kemudian berpindah mengikuti sekretariat MUI Pusat. Tahun 1986 di Masjid AL-Azhar, Jakarta , dan mulai tahun 1989 sampai sekarang di Masjid Istiqlal.
BKPMI kemudian berkembang menjadi organisasi yang solid bersama derap perjuangan dakwah Islam di Indonesia. Karena itu, ia bergerak pula bersama dinamika kehidupan bangsa Indonesia, baik sosial kemasyarakatan, khususnya ummat Islam, maupun perkembangan ‘pembangunan’ politik bangsa Indonesia.
Salah satu ‘karya besar’ BKPMI adalah di canangkannya pembentukan Taman Kanak-kanak Al-Qur’an (TKA) sebagai program nasional BKPMI dalam Musyawarah Nasional V BKPMI di Masjid Al-Falah Surabaya tahun 1989. Dalam MUNAS V ini, hadir memberi pengarahan beberapa pejabat tinggi negara, seperti Menteri Agama (Prof. DR. H. Munawir Sadzali) dan Menteri Penerangan (H. Harmoko). Program TKA ini kemudian dilanjutkan dengan pembentukan Lembaga Pembinaan dan pengembangan TKA (LPPTKA) BKPMI dalam rapat pleno DPP BKPMI di Jakarta.
DARI BKPMI KE BKPRMI
Perubahan dari Badan Komunikasi Pemuda Masjid Indonesia (BKPMI) ke Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) dilakukan dalam Musyawarah Nasional VI tahun 1993 di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, bersamaan dengan bergabungnya Forum Silaturahmi Remaja Masjid (FOSIRAMA) di bawah pimpinan DR. H. Idrus Marham, M.A. (Ketua Umum DPP BKPRMI yang lalu).
Bersamaan dengan perubahan nama organisasi, dalam MUNAS VI ini pula di sepakati, bahwa BKPRMI merupakan lembaga otonom dari organisasi Dewan Mesjid Indonesia (DMI). Selain itu, di bawah pengurus BKPRMI terbentuk beberapa Lembaga Pembinaan dan Pengembangan, seperti Da’wah dan Pengkajian Islam (LPP-DPI), Sumber Daya Manusia (LPP-SDM), Ekonomi Koperasi (LPP-EKOP), Dan Keluarga Sejahtera (LPP-KS). Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Ketahanan Santri (LKS), terbentuk dalam suatu rapat pleno DPP pasca MUNAS VI.

Mars BKPRMI

Pemuda remaja marilah bergabung
didalam BKPRMI kita berhimpun
kembali ke masjid mari membangun
masyarakat marhamah tujuan kita semua

Jadilah muwahid pemersatu ummat
Jadilah mujahid pembela kebenaran
musyaddid muaddib, pelurus dan pendidik
sebagai mujaddid pemelihara iman.



download disini 

Jumat, 13 Agustus 2010

BKPRMI

Misi Pokok BKPRMI 2009-2012 adalah “Optimalisasi Gerakan Kaderisasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia untuk mengembangkan sumber daya manusia dalam memperteguh akhlak bangsa”.misi pokok tersebut merupakan ketetapan MUNAS X dan amanah bagi seluruh jajaran BKPRMI.
Misi pokok program tersebut sangat singkron dengan fungsi dan tujuan BKPRMI yaitu: “memberdayakan dan mengembangkan potensi pemuda Remaja Masjid agar bertaqwa kepada Allah Swt. ………dst (AD BKPRMI). Kita berkeyakinan bahwa pedoman utama untuk hidup bertaqwa dan berakhlak mulia tiada lain adalah Al-Qur’anul Karim. Dalam hubungan ini, komitmen BKPRMI terhadap Al-Qur’an dinyatakan dalam pasal usahanya, yaitu :”terus menerus meningkatkan upaya pengembangan minat dan kemampuan pemahaman serta jamaah masjid”. (AD pasal 8 ayat 1). Usaha pertama dan utama diperkuat oleh 10 kewajiban BKPRMI. Bunyi pertama adalah :”Bacalah Al-Qur’an, pahami dan hayati maknanya, serta amalkan pesan-pesannya”.
Dalan kehidupan modern, ketika kehidupan manusia banyak mengalami paradoks budaya maka tumbuh harapan agar agama melalui umatnya mampu menjadi factor pencerahan sebagaimana pesan luhur agama. Pencerahan yang menumbuhkan kedamaian, keadilan, demokrasi, moralitas, pemenuhan hak-hak manusia, dan tegaknya nilai-nilai mulia (akhlakul karimah) dalam kehidupan umat manusia baik pada level individual, kelompok, hingga ketingkat system ekonomi, politik, dan budaya.
Pemuda Remaja Masjid/mushalla merupakan bagian integral Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) adalah organisasi dakwah dan kepemudaan sebagai bagian dari potensi generasi muda yang bertanggung jawab terhadap masa depan agama Islam, bangsa dan Negara Republik Indonesia, menjadikan Masjid dan Mushalla sebagai tempat Ibadah, kebudayaan dan perjuangan untuk membina generasi muda menjadi "Kader Bangsa" yang bertaqwa kepada Allah SWT, memiliki wawasan keislaman yang utuh dan wawasan keindonesia-an yang kokoh, bersikap istiqomah dan berakhlak mulia serta memilki citra sebagai Muwahid, Mujahid, Musyadid, Muaddib serta Mujadid.
Program khusus yang ditangani sejak berdirinya Lembaga ini pada hakekatnya adalah merupakan gerakan kaderisasi, sebab anak-anak yang dibina melalui unit TK/TPA Al-Qur’an pada gilirannya akan memasuki usia remaja dan pemuda. Mereka belajar di bangku SMP, SMU, dan Perguruan Tinggi, yang insya Allah sudah tertanam dalam dirinya bibit-bibit nilai Qur’ani. Dengan demikian kondisi Obyektif sosio-kultural ini merupakan peluang sekaligus tantangan bagi BKPRMI dalam menjalankan Misinya.
Dalam menjalankan fungsinya, DPD-BKPRMI memerlukan program kerja yang jelas, sistematis, terukur dan dikelola secara profesional. Dalam lingkup daerah program kerja Lembaga dibahas dan ditetapkan dalam forum RAKERDA I (Rapat Kerja Daerah) dan untuk program tahun 2009 akan dibahas dan direncanakan, dan selanjutnya hasil perencanaan program perlu diolah TIM perumus dengan sistematis sehingga dapat dilaksanakan dan dipahami oleh pihak-pihak yang terkait. Semoga Allah Swt selalu memberikan kekuatan lahir dan bathin kepada kita dalam menjalankan amanah, dan memperoleh Ridlo-Nya. Amin, ya Robbal ‘alamin.

Selasa, 03 Agustus 2010

WAJAH BARU PENGURUS DPP BKPRMI 2009 - 2013

Jakarta – Ali Mocthar Ngabalin, mengumumkan secara resmi susunan DPP BKPRMI periode 2009-2013 dalam rapat pleno yang diadakan Rabu malam (5/8) di Jakarta. Ali Mocthar, mahasiswa program doktoral Universitas Nasional Jakarta ini terpilih kembali menjadi Ketua Umum untuk periode kedua dalam Musyawarah Nasional XI yang berlangsung 22-25 Juni 2009 di Jakarta.

Ali Mocthar optimis dengan wajah-wajah baru yang tampil, akan dapat menjalankan roda organisasi empat tahun kedepan menjadi lebih baik. “Untuk memenuhi harapan itu kami telah menyiapkan Orientasi Kepengurusan guna menyatukan persepsi dan konsep tentang pengelolaan organisasi yang sukses,”kata anggota DPR RI 2004-2009.

Dalam susunan DPP BKPRMI yang baru, ada nama-nama Ketua Umum Wilayah masuk sebagai pengurus, seperti Sotar Nasution (Ketum Sumut), M. Muchson (Ketum DKI Jakarta), M. Asri Anas (Ketum Sulbar). Selain itu, Chairul Aminudin, Zaenul Ula, Aditya Nugraha, Mursyid Zainal Abidin, juga masuk sebagai pengurus harian masing-masing sebagai Ketua. Sekretaris Jenderal ditempati Ade Irfan Pulungan, wakil-wakil Sekjen: A.Taufik Rachman (Banten) Supardi A.Kadir (Kalbar), Ihya Ulumuddin (Jabar), Sulaiman Wasahua (Maluku),Hadi Susanto(Jkt), Try Suharyadi (Jkt), dan Nurdin Abbas (Jkt). Bendahara Umum ditempati Syaifuddin Mohalisi, wakil-wakil bendahara: Eni Nur Aisyah, Farida Zulfikar dan M. Ainul Suginarto

Sebagai MPP BKPRMI, antara lain: Bustami Usman, Hariyanto Oghie, Najamuddin Ramly, Daud Poliraja,M. Asraf Ali, Bustani, dan Yanuar Amnur.

Sekalipun belum ada Peraturan Organisasi (PO) BKPRMI yang mengatur. Apakah seseorang yang menjadi Ketua Umum bisa atau tidak menjadi pengurus pada struktur diatasnya. Namun, secara etis posisi tersebut harus ada pilihan alternatif. Demikian pula secara menejerial, seseorang yang menempati dua posisi yang berbeda di organisasi, pasti akan mendapat kendala-kendala teknis.

Ali Mocthar telah menegaskan, bagi mereka yang masih menjadi Ketua Umum Wilayah diharapkan segera menyelesaikan masa tugasnya, dengan melakukan Musyawarah Wilayah. ”Saya harapkan Akhie yang masih menjadi Ketua Umum agar segera melakukan musyawarah,”katanya.

Harapan kuat datang dari wilayah-wilayah, agar DPP BKPRMI dapat melaksanakan program kerja dengan sebaik-baiknya. Mereka yang akan mengemban amanah DPP BKPRMI adalah para kader yang berasal dari berbagai latar belakang dan pengalaman organisasi. Karenanya, tidak perlu diragukan. Kita berdoa saja, mudah-mudahan harapan itu dapat terpenuhi. Bukankah pengalaman itu adalah modal sosial yang utama bagi pengurus untuk membangun sinergi yang baik dalam berorganisasi? (Z)